Penyensoran Buku
psikologi di balik pelarangan ide yang dianggap berbahaya
Pernahkah kita mendengar kisah tentang seekor kelinci fiktif yang dianggap membahayakan keamanan negara?
Pada tahun 1931, pemerintah di sebuah provinsi di Tiongkok melarang peredaran buku Alice's Adventures in Wonderland. Alasannya terdengar sangat absurd bagi kita sekarang: hewan tidak boleh menggunakan bahasa manusia, dan menyetarakan hewan dengan manusia adalah sebuah penghinaan. Buku itu disita, disingkirkan, dan dilarang dibaca.
Mari kita berhenti sejenak dan memikirkan hal ini bersama-sama. Tumpukan kertas yang dijilid, berisi coretan tinta, bisa membuat individu, kelompok, hingga negara adidaya merasa sangat ketakutan.
Sejarah umat manusia penuh dengan api yang membakar buku. Mulai dari perpustakaan kuno yang dihancurkan, hingga pelarangan buku-buku modern di sekolah-sekolah saat ini. Di balik semua insiden tersebut, ada satu pertanyaan menarik yang pantas kita bedah hari ini: mengapa kita begitu takut pada ide? Dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita ketika kita memutuskan bahwa sebuah buku terlalu berbahaya untuk dibaca oleh orang lain?
Untuk memahami ketakutan ini, kita tidak bisa hanya melihat buku sebagai benda mati. Kita harus melihat buku sebagai sebuah kendaraan pembawa realitas.
Setiap dari kita membangun sebuah "peta dunia" di dalam kepala. Peta ini berisi keyakinan kita tentang apa yang benar dan salah, bagaimana masyarakat seharusnya bekerja, dan siapa diri kita di dalam struktur tersebut. Peta ini memberi kita rasa aman. Nah, sebuah buku yang membawa ide baru yang radikal berpotensi merobek peta tersebut.
Ketika kita menengok ke belakang, penyensoran selalu terjadi di titik-titik transisi kekuasaan atau pergolakan sosial. Galileo dihukum karena menulis bahwa Bumi mengelilingi Matahari. Darwin ditolak karena menantang asal-usul manusia. Ide-ide mereka tidak melukai siapa pun secara fisik, tetapi ide-ide itu menghancurkan fondasi cerita yang selama ini dipegang erat oleh penguasa zaman itu.
Menyensor buku, pada dasarnya, adalah sebuah refleks perlindungan diri. Ini adalah upaya putus asa untuk menghentikan waktu dan mempertahankan status quo. Namun, ada sebuah mesin kompleks di dalam tubuh kita yang menjelaskan mengapa refleks ini begitu kuat dan seringkali tidak rasional.
Sekarang, mari kita masuk ke dalam laboratorium neurologi sejenak dan melihat apa yang terjadi di otak kita.
Ketika kita berhadapan dengan informasi yang secara fundamental bertentangan dengan identitas atau keyakinan utama kita, otak kita mengalami fenomena psikologis yang disebut cognitive dissonance atau disonansi kognitif. Ini adalah rasa tidak nyaman yang amat sangat ketika dua ide yang berlawanan bertabrakan di dalam kepala.
Namun, ilmu saraf (neuroscience) menunjukkan hal yang lebih mengejutkan. Penelitian menggunakan pemindaian fMRI memperlihatkan bahwa ketika keyakinan politik atau ideologis kita ditantang, area otak yang bernama amygdala langsung menyala.
Bagi teman-teman yang belum familiar, amygdala adalah pusat alarm di otak kita. Ini adalah bagian purba yang bereaksi ketika kita melihat harimau buas atau ancaman fisik. Artinya, otak kita secara harfiah tidak bisa membedakan antara ancaman fisik yang mengancam nyawa, dengan ide di dalam buku yang mengancam ego kita.
Otak kita berteriak, "Bahaya! Hancurkan ancaman itu!"
Inilah akar psikologis dari penyensoran. Kita melarang sebuah buku karena otak kita memproses ide yang berbeda sebagai pemangsa yang sedang mengintai kita di dalam hutan. Pertanyaan besarnya: apakah membungkam ide tersebut benar-benar membunuhnya, atau justru membangkitkan monster yang lebih besar?
Di sinilah letak ironi terbesar dari sejarah pelarangan ide. Mari kita buka tirai rahasia dari cara kerja pikiran manusia.
Dalam psikologi, ada sebuah konsep yang sangat kuat bernama psychological reactance (reaktansi psikologis). Konsep ini menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan bawaan untuk melindungi kebebasannya. Ketika seseorang atau sebuah otoritas memberi tahu kita, "Kamu tidak boleh membaca ini," otak kita tidak merespons dengan kepatuhan. Otak kita merespons dengan pemberontakan.
Larangan itu sendiri justru bertindak sebagai publikasi gratis yang paling efektif.
Ketika sebuah buku dilarang, otak kita melepaskan dopamin yang memicu rasa penasaran yang luar biasa. Tiba-tiba, buku yang mungkin awalnya membosankan berubah menjadi forbidden fruit (buah terlarang) yang sangat menggoda. Di era internet, fenomena ini dikenal luas sebagai Streisand Effect, di mana upaya untuk menyembunyikan atau menyensor sebuah informasi justru membuat informasi tersebut menyebar secara eksponensial.
Jadi, ketika sebuah otoritas melarang sebuah buku, mereka sebenarnya sedang kalah telak. Mereka tidak mematikan idenya. Mereka justru mempersenjatai ide tersebut. Mereka memberinya aura misteri, kekuatan, dan relevansi abadi. Tanpa sadar, sang penyensor sendirilah yang membuat buku tersebut menjadi legendaris.
Pada akhirnya, kita mungkin mudah menertawakan orang-orang di masa lalu yang takut pada kelinci yang bisa bicara atau menganggap ide sains sebagai sihir hitam. Namun, mari kita renungkan ini dengan penuh empati pada diri kita sendiri.
Kita semua memiliki amygdala. Kita semua memiliki refleks untuk membungkam hal-hal yang membuat kita tidak nyaman. Di era digital ini, penyensoran tidak selalu berbentuk api unggun yang membakar kertas di tengah alun-alun kota. Kadang, ia berbentuk tombol report, desakan cancel culture, atau ruang gema algoritma yang sengaja kita ciptakan agar kita tidak perlu mendengar pendapat yang berbeda.
Takut pada ide yang berbeda adalah respons manusiawi. Itu adalah biologi kita. Namun, merawat ketakutan itu adalah sebuah pilihan.
Teman-teman, penangkal sesungguhnya dari ide yang berbahaya bukanlah pelarangan atau penyensoran. Penangkalnya adalah berpikir kritis dan ide yang lebih baik. Daripada menyembunyikan buku dari pandangan, jauh lebih baik jika kita membacanya bersama, membedahnya, dan memahami mengapa ide di dalamnya lahir.
Pikiran kita terlalu berharga untuk dilindungi oleh ketidaktahuan. Jadi, mari kita terus membaca, terutama membaca hal-hal yang menantang isi kepala kita. Sebab kebebasan sejati baru dimulai ketika kita berhenti takut pada kertas dan tinta.